Komik vs Animasi
dari Talkshow di Festival Buku Jatinangor
Komik vs AnimasiDari Talkshow di Festival Buku Jatinangor 2004, 6 Mei 2004Pada tanggal 6 Mei yang lalu, saya dan Salman diundang sebagai pembicara dalam talkshow bertema "Komik vs Animasi" yang diadakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Komunikasi - Universitas Padjadjaran, sebagai bagian dari acara Festival Buku Jatinangor 2004 di kampus Unpad di Jatinangor. Talkshow sendiri berlangsung santai di GOR Pakuan, dan diisi dengan dua sesi materi serta ditutup dengan sesi tanya jawab.
Sesi 1: Mengapa Komik?
Oleh Salman A. (DAR-Mizan)
Mengapa komik? Ini menjadi pertanyaan menarik karena banyak hal yang terkait dengan apa yang dikenal dengan komik. Misalkan, dari data penjualan buku paling laris pada tahun tertentu ternyata dipegang oleh komik, melalui judul Detektif Conan. Kemudian data lain juga menyebutkan bahwa yang paling banyak menyewa komik adalah kalangan mahasiswa.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada yang menyebutkan bahwa membaca komik seakan-akan tidak perlu berpikir. Berbeda dengan jika membaca buku teks. Dari pendapat ini muncul satu pendapat lain, mengapa komik tidak dijadikan sebagai buku pelajaran saja? Jika komik bisa dibaca tanpa berpikir, maka pelajaran dapat mengalir dan diterima dengan cepat dan baik.
`Penolakan' terhadap komik terjadi karena komik dianggap sebagai `anak haram' dari buku sehingga sering menerima hujatan dan belum bisa dihargai secara layak. Padahal dilihat dari sisi industri, komik kerap merupakan penyumbang terbesar dari industri penerbitan buku. Di luar negeri, 70% penghasilan pasar buku diperoleh dari komik. Di Indonesia, kontribusi komik juga termasuk besar.
Anggapan positif terhadap komik sebenarnya pernah terjadi, bahkan di beberapa negara Eropa seperti Perancis, komik dianggap sebagai sebuah seni. Tapi masuknya budaya populer yang membuat sesuatu menjadi massal dan rendahan jika dibandingkan dengan budaya elit. Hal ini membuat pandangan terhadap komik kembali menjadi rendah.
Komik sebenarnya mampu menawarkan suatu hal berbeda: sebagai sebuah media penolakan, bagaimana melawan wacana lain dan bagaimana melawan industri komik itu sendiri. Penolakan ini juga menghasilkan cara pandang yang baru. Cara ini melahirkan komik-komik underground.
Pada dasarnya, komik bisa digunakan sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa. Karena penting diketahui bahwa semua media dapat dimanfaatkan secara optimal bergantung pada orang yang ada di balik media tersebut/kreator. Sehingga pendapat bahwa komik membuat bodoh yang kadang dilontarkan tanpa analisis, tidak selalu benar.
Terakhir mengenai `pertarungan' antara komik lokal dengan komik impor, perdebatan yang kerap terjadi dapat dikarenakan tumbangnya romantisme pada komik lokal, tetapi hal ini masih sulit untuk diterima beberapa kalangan tertentu.
Sesi 2: Antara Komik dan Animasi
Oleh Hafiz Ahmad (pengajian komik dkv)
Apa itu komik? Ada beberapa definisi yang mungkin bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang media yang kita kenal sebagai komik. Will Eisner, salah seorang komikus veteran memberikan pendapatnya bahwa komik adalah seni sekuensial, yaitu seni yang memiliki urutan dalam mengungkapkan gagasannya. Definisi ini kemudian dipertajam oleh Scott McCloud, seorang cendekia komik yang menjabarkannya menjadi imaji-imaji yang berderet berdampingan dalam sebuah urutan/sekuen, dengan tujuan menyampaikan informasi serta menghasilkan respon artistik bagi pembacanya. Yang dimaksud dengan urutan/sekuen di sini adalah dalam komik, kita akan `membaca' komik melalui panel-panel yang tersusun secara berurutan untuk menangkap informasi apa yang akan disampaikan.
Komik juga merupakan media yang didasarkan pada unsur penglihatan, dimana unsur gerak, suara dan lain sebagainya kemudian disimbolisasikan ke dalam unsur visual. Karena itulah kita mengenal banyak kosa kata dalam komik yang menterjemahkan apa yang biasanya tidak terlihat tersebut ke dalam bentuk visual, misalkan balon kata, garis gerak, efek suara dan sebagainya. Simbolisasi dan pewakilan ini kita kenal sebagai ikon, yaitu sesuatu yang diwakilkan.
Ikon sebagai sebuah perwakilan (misalkan kita melihat sebuah gambar anjing, maka kita seolah-olah menerima gambar anjing tadi sebagai seekor anjing yang sebenarnya, karena gambar anjing tersebut merupakan perwakilan anjing yang sebenarnya) menjangkau hal yang lebih luas lagi: sebagai sebuah identifikasi. Manusia kerap mengidentifikasikan dirinya dengan hal beragam hal yang diciptakannya sendiri. Misalkan kita melihat sebuah foto, maka kita akan mengidentifikasikan foto tersebut dengan orang yang menjadi objek foto. Saat gambar orang tadi dibuat menjadi lebih sederhana, maka kita bisa mengidentifikasikan gambar tadi kepada khalayak yang lebih luas. Semakin sederhana gambarnya, maka semakin banyak orang yang dapat diidentifikasikan. Sehingga saat kita melihat sebuah lingkaran dengan dua titik dan sebuah garis, kita dapat mengidentifikasikan diri kita dengan objek tersebut. Inilah kekuatan dari kartun: penguatan kesan melalui penyederhanaan. Dan hal inilah yang membuat komik sebagai media yang cepat akrab bagi pembacanya.
Kekuatan identifikasi melalui penyederhanaan (dalam bentuk kartun), makin diperkuat melalui partisipasi. Manusia setelah mampu mengidentifikasikan dirinya pada suatu objek, kemudian seolah-olah memperpanjang organ tubuhnya, serta meminjamkan `jiwa'nya pada sang objek. Makanya adalah hal yang wajar, misalkan mobil yang sedang kita kendarai ditabrak orang, kita secara spontan sering berkata, "Dia menabrak saya!". Inilah yang disebut sebagai partisipasi. Partisipasi dan identifikasi ini merupakan salah satu kekuatan komik.
Hal lain yang juga merupakan kekhasan komik adalah apa yang dikenal sebagai `closure', yaitu harmoni antara apa yang terlihat (panel) dan yang tidak terlihat (ruang antar panel/gutter), yang dengan bantuan imajinasi pembaca membuat gambar diam tadi menjadi hidup. Jadi meskipun telah banyak menggunakan unsur visual, komik tetap melibatkan unsur imajinasi bagi pembacanya. Hal ini kerap menimbulkan apresiasi yang berbeda bagi para pembacanya, dan membuat media ini menjadi lebih hidup, karena sebagian dimeriahkan oleh faktor imajinasi.
Kesemua hal di atas, ditambah dengan tempo, plot dan pacing, serta kerja sama yang sinergi antara visual dan unsur naratif (huruf dan kata-kata) menjadikan kosa kata komik menjadi semakin kaya untuk mampu menarik minat pembacanya. Ditambah lagi, karena sifatnya sebagai budaya populer akan serta merta mengikut sertakan budaya dan keseharian dari asal negaranya membuat komik memiliki kekayaan tersendiri, selain membuat kita dapat belajar budaya dan keseharian bangsa lain. Misalkan kebiasaan baca dari kanan ke kiri bagi masyarakat Jepang yang akan membuat komiknya memiliki ciri khas tersendiri.
Cara pandang yang beragam terhadap media komik seperti ini juga membuat perkembangan komik menjadi berbeda di tiap negara. Jika di Indonesia komik masih dianggap bacaan anak-anak, di negara lain, komik telah mampu menempatkan diri sebagai media dengan isi yang serius dan dewasa, seperti komik Kingdom Come dan Marvels (yang bercerita tentang dunia superhero yang dilihat dari kacamata orang biasa sehingga terasa sangat manusiawi) atau komik 911 sebagai kontribusi komikus terhadap peristiwa 11 September 2001 di New York. Komik juga bisa menjadi catatan dan dokumentasi kondisi sosial budaya, trend dan fashion pada saat sebuah karya komik dibuat. Misalkan gaya anak muda Jakarta ala MTV yang `terekam' dalam komik Dua Warna-nya Alfi.
Animasi, seperti halnya komik juga merupakan seni sekuensial/yang berurutan. Animasi bisa dikatakan sebagai komik, yang tiap panelnya `ditembakkan' pada ruang yang sama. Di sinilah letak persamaan antara komik dan animasi.
Definisi animasi sendiri berasal dari kata `to animate' yang berarti menggerakkan, menghidupkan. Misalkan sebuah benda yang mati, lalu digerakkan melalui perubahan yang sedikit-sedikit dan teratur sehingga memberikan kesan hidup. Untuk membedakan antara animasi dengan seni lain yang meng'hidup'kan benda mati melalui gerakan (misalkan wayang atau boneka), maka biasanya animasi diberi tambahan kata film animasi.
Meskipun memiliki kesamaan dengan komik, animasi memiliki perbedaan yang mendasar pula. Jika komik urutan gambar/ceritanya menggunakan ruang (space), maka dalam animasi, urutannya menggunakan waktu (time). Karena memiliki unsur gerak dan merupakan media berbasis waktu (time based media) yang kadang mengandung unsur audio visual, maka animasi mampu mendeskripsikan sesuatu (adegan, karakter tokoh) secara lebih konkrit. Ini pula yang menjadi kelebihan sekaligus kelemahan dari animasi. Jika digarap secara baik, maka animasi mampu berbicara hingga menyentuh perasaan (misalkan keharuan yang mendalam saat adegan Simba menaiki tahta kerajaan rimba di bawah guyuran hujan deras). Tetapi pada sisi lain, dapat memberikan kekecewaan jika apa yang divisualkan tidak sesuai dengan harapan (misalkan karakter Kapten Haddock yang terasa kurang `garang' disbanding versi komiknya).
Kedekatan lain antara animasi dan komik juga terletak pada basis awalnya yang berdasar pada kartun (penguatan melalui penyederhanaan). Kondisi bahwa film animasi berbentuk kartun yang kerap diidentikkan dengan konsumsi anak-anak, menjadikan film animasi sering disalah kaprahkan menjadi film kartun. Padahal, film animasi tidak selalu identik dengan film kartun untuk anak-anak. Di beberapa negara, seperti Jepang dan Amerika, banyak film animasi yang dibuat untuk konsumsi orang dewasa dengan tema-tema yang dewasa pula. Misalkan film Akira, Ghost in the Shell, Mononoke Hime dan South Park.
resume oleh hafiz [hafiz@dkv.itb.ac.id], 12 Juli 2004 (buat Salman, mungkin mau melengkapi resume presentasinya? punten, nggak terlalu lengkap, euy..)
dari milis pengajian_komik_dkv@yahoogroups.
Komik vs AnimasiDari Talkshow di Festival Buku Jatinangor 2004, 6 Mei 2004Pada tanggal 6 Mei yang lalu, saya dan Salman diundang sebagai pembicara dalam talkshow bertema "Komik vs Animasi" yang diadakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Komunikasi - Universitas Padjadjaran, sebagai bagian dari acara Festival Buku Jatinangor 2004 di kampus Unpad di Jatinangor. Talkshow sendiri berlangsung santai di GOR Pakuan, dan diisi dengan dua sesi materi serta ditutup dengan sesi tanya jawab.
Sesi 1: Mengapa Komik?
Oleh Salman A. (DAR-Mizan)
Mengapa komik? Ini menjadi pertanyaan menarik karena banyak hal yang terkait dengan apa yang dikenal dengan komik. Misalkan, dari data penjualan buku paling laris pada tahun tertentu ternyata dipegang oleh komik, melalui judul Detektif Conan. Kemudian data lain juga menyebutkan bahwa yang paling banyak menyewa komik adalah kalangan mahasiswa.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada yang menyebutkan bahwa membaca komik seakan-akan tidak perlu berpikir. Berbeda dengan jika membaca buku teks. Dari pendapat ini muncul satu pendapat lain, mengapa komik tidak dijadikan sebagai buku pelajaran saja? Jika komik bisa dibaca tanpa berpikir, maka pelajaran dapat mengalir dan diterima dengan cepat dan baik.
`Penolakan' terhadap komik terjadi karena komik dianggap sebagai `anak haram' dari buku sehingga sering menerima hujatan dan belum bisa dihargai secara layak. Padahal dilihat dari sisi industri, komik kerap merupakan penyumbang terbesar dari industri penerbitan buku. Di luar negeri, 70% penghasilan pasar buku diperoleh dari komik. Di Indonesia, kontribusi komik juga termasuk besar.
Anggapan positif terhadap komik sebenarnya pernah terjadi, bahkan di beberapa negara Eropa seperti Perancis, komik dianggap sebagai sebuah seni. Tapi masuknya budaya populer yang membuat sesuatu menjadi massal dan rendahan jika dibandingkan dengan budaya elit. Hal ini membuat pandangan terhadap komik kembali menjadi rendah.
Komik sebenarnya mampu menawarkan suatu hal berbeda: sebagai sebuah media penolakan, bagaimana melawan wacana lain dan bagaimana melawan industri komik itu sendiri. Penolakan ini juga menghasilkan cara pandang yang baru. Cara ini melahirkan komik-komik underground.
Pada dasarnya, komik bisa digunakan sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa. Karena penting diketahui bahwa semua media dapat dimanfaatkan secara optimal bergantung pada orang yang ada di balik media tersebut/kreator. Sehingga pendapat bahwa komik membuat bodoh yang kadang dilontarkan tanpa analisis, tidak selalu benar.
Terakhir mengenai `pertarungan' antara komik lokal dengan komik impor, perdebatan yang kerap terjadi dapat dikarenakan tumbangnya romantisme pada komik lokal, tetapi hal ini masih sulit untuk diterima beberapa kalangan tertentu.
Sesi 2: Antara Komik dan Animasi
Oleh Hafiz Ahmad (pengajian komik dkv)
Apa itu komik? Ada beberapa definisi yang mungkin bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang media yang kita kenal sebagai komik. Will Eisner, salah seorang komikus veteran memberikan pendapatnya bahwa komik adalah seni sekuensial, yaitu seni yang memiliki urutan dalam mengungkapkan gagasannya. Definisi ini kemudian dipertajam oleh Scott McCloud, seorang cendekia komik yang menjabarkannya menjadi imaji-imaji yang berderet berdampingan dalam sebuah urutan/sekuen, dengan tujuan menyampaikan informasi serta menghasilkan respon artistik bagi pembacanya. Yang dimaksud dengan urutan/sekuen di sini adalah dalam komik, kita akan `membaca' komik melalui panel-panel yang tersusun secara berurutan untuk menangkap informasi apa yang akan disampaikan.
Komik juga merupakan media yang didasarkan pada unsur penglihatan, dimana unsur gerak, suara dan lain sebagainya kemudian disimbolisasikan ke dalam unsur visual. Karena itulah kita mengenal banyak kosa kata dalam komik yang menterjemahkan apa yang biasanya tidak terlihat tersebut ke dalam bentuk visual, misalkan balon kata, garis gerak, efek suara dan sebagainya. Simbolisasi dan pewakilan ini kita kenal sebagai ikon, yaitu sesuatu yang diwakilkan.
Ikon sebagai sebuah perwakilan (misalkan kita melihat sebuah gambar anjing, maka kita seolah-olah menerima gambar anjing tadi sebagai seekor anjing yang sebenarnya, karena gambar anjing tersebut merupakan perwakilan anjing yang sebenarnya) menjangkau hal yang lebih luas lagi: sebagai sebuah identifikasi. Manusia kerap mengidentifikasikan dirinya dengan hal beragam hal yang diciptakannya sendiri. Misalkan kita melihat sebuah foto, maka kita akan mengidentifikasikan foto tersebut dengan orang yang menjadi objek foto. Saat gambar orang tadi dibuat menjadi lebih sederhana, maka kita bisa mengidentifikasikan gambar tadi kepada khalayak yang lebih luas. Semakin sederhana gambarnya, maka semakin banyak orang yang dapat diidentifikasikan. Sehingga saat kita melihat sebuah lingkaran dengan dua titik dan sebuah garis, kita dapat mengidentifikasikan diri kita dengan objek tersebut. Inilah kekuatan dari kartun: penguatan kesan melalui penyederhanaan. Dan hal inilah yang membuat komik sebagai media yang cepat akrab bagi pembacanya.
Kekuatan identifikasi melalui penyederhanaan (dalam bentuk kartun), makin diperkuat melalui partisipasi. Manusia setelah mampu mengidentifikasikan dirinya pada suatu objek, kemudian seolah-olah memperpanjang organ tubuhnya, serta meminjamkan `jiwa'nya pada sang objek. Makanya adalah hal yang wajar, misalkan mobil yang sedang kita kendarai ditabrak orang, kita secara spontan sering berkata, "Dia menabrak saya!". Inilah yang disebut sebagai partisipasi. Partisipasi dan identifikasi ini merupakan salah satu kekuatan komik.
Hal lain yang juga merupakan kekhasan komik adalah apa yang dikenal sebagai `closure', yaitu harmoni antara apa yang terlihat (panel) dan yang tidak terlihat (ruang antar panel/gutter), yang dengan bantuan imajinasi pembaca membuat gambar diam tadi menjadi hidup. Jadi meskipun telah banyak menggunakan unsur visual, komik tetap melibatkan unsur imajinasi bagi pembacanya. Hal ini kerap menimbulkan apresiasi yang berbeda bagi para pembacanya, dan membuat media ini menjadi lebih hidup, karena sebagian dimeriahkan oleh faktor imajinasi.
Kesemua hal di atas, ditambah dengan tempo, plot dan pacing, serta kerja sama yang sinergi antara visual dan unsur naratif (huruf dan kata-kata) menjadikan kosa kata komik menjadi semakin kaya untuk mampu menarik minat pembacanya. Ditambah lagi, karena sifatnya sebagai budaya populer akan serta merta mengikut sertakan budaya dan keseharian dari asal negaranya membuat komik memiliki kekayaan tersendiri, selain membuat kita dapat belajar budaya dan keseharian bangsa lain. Misalkan kebiasaan baca dari kanan ke kiri bagi masyarakat Jepang yang akan membuat komiknya memiliki ciri khas tersendiri.
Cara pandang yang beragam terhadap media komik seperti ini juga membuat perkembangan komik menjadi berbeda di tiap negara. Jika di Indonesia komik masih dianggap bacaan anak-anak, di negara lain, komik telah mampu menempatkan diri sebagai media dengan isi yang serius dan dewasa, seperti komik Kingdom Come dan Marvels (yang bercerita tentang dunia superhero yang dilihat dari kacamata orang biasa sehingga terasa sangat manusiawi) atau komik 911 sebagai kontribusi komikus terhadap peristiwa 11 September 2001 di New York. Komik juga bisa menjadi catatan dan dokumentasi kondisi sosial budaya, trend dan fashion pada saat sebuah karya komik dibuat. Misalkan gaya anak muda Jakarta ala MTV yang `terekam' dalam komik Dua Warna-nya Alfi.
Animasi, seperti halnya komik juga merupakan seni sekuensial/yang berurutan. Animasi bisa dikatakan sebagai komik, yang tiap panelnya `ditembakkan' pada ruang yang sama. Di sinilah letak persamaan antara komik dan animasi.
Definisi animasi sendiri berasal dari kata `to animate' yang berarti menggerakkan, menghidupkan. Misalkan sebuah benda yang mati, lalu digerakkan melalui perubahan yang sedikit-sedikit dan teratur sehingga memberikan kesan hidup. Untuk membedakan antara animasi dengan seni lain yang meng'hidup'kan benda mati melalui gerakan (misalkan wayang atau boneka), maka biasanya animasi diberi tambahan kata film animasi.
Meskipun memiliki kesamaan dengan komik, animasi memiliki perbedaan yang mendasar pula. Jika komik urutan gambar/ceritanya menggunakan ruang (space), maka dalam animasi, urutannya menggunakan waktu (time). Karena memiliki unsur gerak dan merupakan media berbasis waktu (time based media) yang kadang mengandung unsur audio visual, maka animasi mampu mendeskripsikan sesuatu (adegan, karakter tokoh) secara lebih konkrit. Ini pula yang menjadi kelebihan sekaligus kelemahan dari animasi. Jika digarap secara baik, maka animasi mampu berbicara hingga menyentuh perasaan (misalkan keharuan yang mendalam saat adegan Simba menaiki tahta kerajaan rimba di bawah guyuran hujan deras). Tetapi pada sisi lain, dapat memberikan kekecewaan jika apa yang divisualkan tidak sesuai dengan harapan (misalkan karakter Kapten Haddock yang terasa kurang `garang' disbanding versi komiknya).
Kedekatan lain antara animasi dan komik juga terletak pada basis awalnya yang berdasar pada kartun (penguatan melalui penyederhanaan). Kondisi bahwa film animasi berbentuk kartun yang kerap diidentikkan dengan konsumsi anak-anak, menjadikan film animasi sering disalah kaprahkan menjadi film kartun. Padahal, film animasi tidak selalu identik dengan film kartun untuk anak-anak. Di beberapa negara, seperti Jepang dan Amerika, banyak film animasi yang dibuat untuk konsumsi orang dewasa dengan tema-tema yang dewasa pula. Misalkan film Akira, Ghost in the Shell, Mononoke Hime dan South Park.
resume oleh hafiz [hafiz@dkv.itb.ac.id], 12 Juli 2004 (buat Salman, mungkin mau melengkapi resume presentasinya? punten, nggak terlalu lengkap, euy..)
dari milis pengajian_komik_dkv@yahoogroups.

2 Comments:
Hello!
Nice site, keep up the good work .
http://buy-phentermine.hem.nu BUY PHENTERMINE
BUY PHENTERMINE
http://buy-phentermine.hem.nu buy phentermine
http://buy-phentermine.hem.nu phentermine online
http://buy-phentermine.hem.nu order phentermine
http://buy-phentermine.hem.nu cheap phentermine
http://buy-phentermine.hem.nu buy phentermine online
http://buy-phentermine.hem.nu phentermine diet pill
http://buy-phentermine.hem.nu phentermine online pharmacy
http://buy-phentermine.hem.nu phentermine prescription
http://buy-phentermine.hem.nu what is phentermine
http://buy-phentermine.hem.nu free phentermine
no deposit cash online without requirments titan full tilt cd poker
online cash no deposit
online poker cash mansion full tilt
bankroll - bet most cd poker pokerroomy dla każdego coś miłego poker 4ever
za darmo poker internetowy
darmowe bonus bez depozytu pkr
bonuses without deposit no requirment
poker portal free money of poker rules
no deposit online poker chips betmost
Post a Comment
<< Home